Hanny Kusumawati

April 25, 8:00am - 11:00am WIB. Hosted at Plaza Indonesia

part of a series on Game


About the speaker

Ketika ia berusia 30 tahun, Hanny Kusumawati memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai Creative Director di sebuah perusahaan konsultan komunikasi ternama demi bekerja secara mandiri. Terlepas dari segala ketidakpastian bekerja sendiri, Hanny penasaran, bagaimana hidupnya akan berubah dengan keputusan tersebut.

Sejak itu, Hanny belum pernah memenangkan penghargaan, mencapai kemandirian finansial, atau menciptakan bisnis bernilai miliaran rupiah. Namun Hanny merasa hidupnya jadi lebih santai, bahkan ia jadi bisa memahami makna dari kata ‘cukup’.

Sekarang Hanny masih menulis, melayani konsultasi tentang pembuatan konten kreatif, serta memandu lokakarya bertema komunikasi. Hanny kerap bepergian—dengan santai dan perlahan—lalu membagi hal-hal yang ia pelajari sepanjang perjalanannya lewat blognya, www.beradadisini.com. Hanny juga mengelola situs bersifat user-generated content bernama kamantara.id.

Belakangan, Hanny kembali menekuni minat masa kecilnya, yaitu menggambar dan membuat ilustrasi. Buku terbarunya, Break, Hearts: And Be Alright menggabungkan kecintaan Hanny pada penulisan intuitif serta ilustrasi, dan bertujuan untuk membantu orang-orang kreatif menghadapi patah hati.

Local partners

Additional details

Hanny, tentang GAME :

Saat kuliah dulu, saya pernah membaca buku berjudul The Game of Life and How To Play It oleh Florence Scovel Shinn. Buku itu mengubah hidup saya secara signifikan sekaligus membuat saya jadi melihat hidup sebagai sebuah “permainan”, dan saya terpesona dengan konsep tersebut.

Dalam hidup, kita adalah pemain aktif, bukan hanya pengamat atau karakter pasif. Saat saya masih menjadi Direktur Kreatif, saya membuat kampanye-kampanye yang menunggangi tren gamification di dunia pemasaran, dan saya tambah terpesona dengan bagaimana gamification mendorong pelanggan untuk bertindak.

Kemudian, tahun lalu, saya membaca buku SuperBetter oleh Jane McGonigal. Buku tersebut mengusung ide yang sudah lama ada dalam pikiran saya: bagaimana jika kita bisa merancang hidup kita sendiri, seperti merancang sebuah video game?

Maka di CreativeMornings Jakarta minggu depan, saya akan berbicara tentang itu—How I Turn My Life Into A (Some Sort Of) Video Game, and Why You Might Want to Try It, Too.